SUMUTRELASIPUBLIK — Kasus tragis seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya baru-baru ini menjadi perbincangan luas di Indonesia.
Bocah kelas IV tersebut ditemukan tewas gantung diri setelah permintaannya untuk dibelikan buku tulis dan pulpen tak terpenuhi oleh keluarganya.
Polisi menyatakan tidak ada unsur pidana dalam peristiwa tersebut dan motifnya diduga kuat berhubungan dengan kekecewaan akibat tak bisa membeli alat sekolah sederhana itu?
Reaksi publik dan pejabat negeri pun cepat. Sebagian pihak, termasuk tokoh nasional, menilai penyebabnya kemiskinan yang masih mengakar di masyarakat kita.
Wakil presiden era sebelumnya menyatakan bahwa kemiskinan Indonesia harus menjadi fokus utama sehingga tragedi serupa tak terulang.
Namun apabila kita menelaah lebih mendalam, tragedi ini sesungguhnya mengisyaratkan satu hal yang lebih fundamental: kegagalan kita memahami dan menjaga kesehatan mental anak sejak dini.
“Bukan Sekadar Ketidakmampuan Membeli Tapi Ketidakmampuan Didengar”
Fakta kronologis menunjukkan bahwa sehari sebelum kejadian, YBR sempat meminta ibunya dibelikan alat tulis sederhana, namun permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Dalam surat perpisahan yang ditemukan, YBR bahkan menulis ungkapan yang menunjukkan kekecewaan emosional yang mendalam kepada sosok ibunya.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bahkan menyatakan bahwa salah satu faktor memicu tragedi ini adalah ketidakmampuan anak untuk menyampaikan perasaan dan cerita batinnya, ia tidak punya “tempat bercerita”.
Menteri PPPA menyoroti budaya lokal di mana laki-laki kecil diajarkan untuk tidak menunjukkan kelemahan atau emosi; ini justru memperparah isolasi emosional anak.
Masih di usia 10 tahun, anak itu sudah tampak mengalami tekanan psikologis yang fatal. Dan kekosongan ruang aman untuk mengekspresikan kegundahan batinnya menjadi bagian yang paling tragis dari cerita ini.
Kita kerap berargumen bahwa kemiskinan atau tekanan ekonomi adalah sebab utama peristiwa semacam ini. Tidak sepenuhnya salah, tentu saja. Tapi melihat kasus YBR secara menyeluruh, akar masalahnya justru bukan sekadar Rp10.000 untuk membeli buku, melainkan ketegangan batin yang menumpuk tanpa outlet bagi sang anak.
Seorang anak kecil yang tumbuh di lingkungan rumah dengan struktur keluarga tak utuh ayah yang merantau jauh, ibu yang bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga, dan tanggung jawab hidup yang menempel sejak dini, tidak semestinya sendirian mengurus beban emosionalnya.
Ia bukan hanya butuh sumber daya materi, tetapi juga ruang bicara, perhatian, dan validasi emosional dari orang dewasa di sekitarnya.
Kejadian ini memperlihatkan bahwa kita masih terlalu fokus pada angka-angka statistik kemiskinan, sementara indikator kesehatan mental anak tidak mendapatkan porsi perhatian yang layak.
Ketika seorang anak mengungkapkan kecemasan atau kekecewaan, orang di sekitarnya mungkin menganggap enteng hal tersebut karena “anak biasanya begitu”. Padahal, itu adalah sinyal awal ketidakstabilan emosional yang bisa berkembang menjadi keputusan ekstrem seperti yang dialami YBR.
Data lain dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki salah satu angka kasus bunuh diri anak tertinggi di Asia Tenggara, dengan ratusan kasus sejak 2023 yang melibatkan pelbagai motif, ekonomi, bullying, hingga pengaruh media. Semuanya bermuara pada satu hal: kekosongan dukungan psikologis sejak dini.
Kemiskinan struktural memang nyata dan perlu ditangani, tetapi tragedi YBR tidak boleh dibatasi pada narasi itu saja. Ia adalah alarm keras bahwa kesehatan mental anak adalah mata rantai yang paling rapuh dalam sistem perlindungan anak di Indonesia.
Kita harus belajar membaca pesan di balik kasus ini, ketika seorang anak merasa suara batinnya tidak pernah didengar, ketika ia tidak punya tempat aman untuk bercerita, ketika tekanan emosional dibiarkan terpendam begitu saja, itu tidak hanya soal alat sekolah yang tidak dibeli. Itu soal kehadiran kita sebagai orang tua, guru, dan masyarakat yang gagal menyediakan ruang bagi perkembangan mental anak.
Untuk mencegah tragedi berikutnya, kita perlu bukan hanya pemberian buku dan pena, tetapi juga ruang bicara, perhatian, serta sistem dukungan psikososial bagi anak sejak dini. Tidak ada lagi ruang bagi anak yang tumbuh tanpa tempat untuk bercerita.
Penulis Opini: Aiman Ambarita















