Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
OpiniTerbaru

Hashtag Atau Pagar, # KaburAjaDulu Yang Viral Di media Sosial, Venomena Keresahan Anak Muda Dengan Kondisi Sosial Didalam Negeri

551
×

Hashtag Atau Pagar, # KaburAjaDulu Yang Viral Di media Sosial, Venomena Keresahan Anak Muda Dengan Kondisi Sosial Didalam Negeri

Sebarkan artikel ini
Foto -Ilustrasi Luar negeri Swiss.(Dok.Ist).

 

Sumut//relasipublik.com- AKhir akhir ini viral di Media sosial terutama di Platform Tiktok, (Hashtag atau pagar)# KaburAjaDulu. Ajakan ini untuk kawula muda Indonesia untuk pergi meninggalkan Indonesia.

Kenapa mereka sampai membuat ajakan agar meninggalkan Indonesia? Banyak dari kaum muda ini membuat argumentasi kenapa sampai melakukan gerakan, Hashtag “# KaburAjaDulu”.

Terkesan sederhana, tapi banyak juga yang alasan pemikiran yang mendasari warga Indonesia terutama anak muda itu untuk kabur ke luar negeri yaitu :

– Faktor pendidikan diluar negeri lebih baik dari indonesia .
– Kepastian untuk mendapatkan penghasilan yang layak, Penghasilan lebih tinggi diluar negeri, atau negara Eropah di banding Indonesia.
– Pekerjaan yang sudah pasti dan cuti yang pasti.
– Untuk memperbaiki keturunan (jodoh)
-Mendapatkan kepastian hukum
-Jaminan kesehatan yang memadai
-Jaminan uang pensiun
-dll.

Alasan yang mendasari dari pemikiran anak muda untuk pergi keluar negeri tersebut cukup masuk akal. Soalnya bila kita lihat di indonesia ini, untuk mendapatkan pekerjaan harus mempunyai koneksi, uangnya dan sebagainya, bukan berdasarkan keahlian. Maka hashtag # KaburAjaDulu ” merupakan salah satu jalan keluar dari permasalahan carut marutnya kehidupan sosial di Idonesian, sehingga seruan tersebut mendapat berbagai komentar yang beragam dan makin populer terutama diflatfom digital seperti Tiktok, Instagram dan platform lainnya.

Banyak anak muda orang Indonesia yang berada diluar negeri baik yang masih dibangku kuliah ataupun yang sudah bekerja seperti di Australia, Inggris, Belanda, Jerman, Finlandia, Usa, Jepang, Korsel, yang saat ini masih proses pendidikan di negara yang disebutkan diatas tadi, memberikan tutorial tentang bagaimana cara untuk tinggal di negara yang mereka tempati saat ini, berapa biaya hidup dan pekerjaan yang bisa mereka dapatkan dengan mudah dan berapa penghasilan yang mereka perjam, serta jaminan apa yang mereka dapatkan diberbagai sektor pekerjaan, serta pajak yang yang dipotong untuk negara.

Selain itu banyak juga pengakuan dari beberapa orang yang sudah menempuh pendidikan di Indonesia dari universitas yang favorit tapi untuk mendapatkan pekerjaan di sektor pemerintahan dan militer mereka gagal, karena faktor tinggi badan. Sementara untuk menjadi tentara Amerika mereka tidak mempersoalkan tinggi badan dan diperbolehkan memakai kaca mata dan saat ini dia telah menjadi tentara Amerika dan bersuamikan orang Amerika.

Dalam pengakuannya bahwa, tentara wanita yang berasal dari Sumatra Utara tersebut bukan tidak mau menjadi militer Indonesia atau nasionalismenya kurang, tapi peraturan militer Indonesia yang menerapkan tinggi badan yang menjadi persoalan, sehingga kesempatannya untuk mengabdi menjadi TNI menjadi hilang, akhirnya dia menjadi tentara Amerika dan sudah menjadi perwira militer di Amerika.

Selain itu masih banyak lagi yang lainnya saat ini yang tinggal dan bersuamikan orang Finlandia yang mengatakan pendidikan disana dari mulai TK hingga Perguruan tinggi biaya ditanggung oleh pemerintah disana alias gratis, tapi disana pajak memang tinggi mencapai 45% tapi sebanding dengan yang diterima, misalnya jaminan sosial dan kesehatan yang didapat, kepastian hukum dan keamanan di negara tersebut terjamin, bahkan kalau berjalan jalan sendirian, tengah malam sekalipun tidak akan ada yang menggunakan, karena kriminal disana hampir tidak ada.

Hal hal positif diatas membuat banyak anak muda dari Idonesian membuat nekat merantau untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan diluar negeri dan juga hal ini juga sebagai seruan untuk pemerintah yang saat, agar menata kembali kehidupan sosial Indonesia yang carut marut.

Untuk diketahui juga umumnya mereka yang sudah bekerja diluar negeri ini, kebanyakan dari mereka enggan untuk kembali ke Indonesia, banyak di indonesia yang tidak bisa mereka dapati tetapi dinegara perantauan mereka mendapatkannya, misalnya akses kesehatan gratis.Walaupun mereka dibilang jadi warga kelas dualah dan sebagainya tetapi bagi sebagian dari perantau ini, jaminan pekerjaan dan uang yang mudah didapat menjadi alasan pembenaran mereka mereka untuk tetap stay di luar negeri. Jadi bagaimana dengan seruan Hashtag # KaburAjaDulu, apakah seruan ini kalian dukung, terserah masing masing individu yang menilainya.(Ronald Sihombing)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *