MEDAN — Ada satu tradisi di negeri ini yang tampaknya sulit sekali punah. Bukan tradisi gotong royong, bukan pula budaya antre yang memang sejak dulu susah tumbuh. Tradisi itu adalah mantan mahasiswa didemo oleh mahasiswa.
Hampir setiap zaman begitu.
Ketika masih memakai almamater, seseorang merasa dunia harus segera diperbaiki.
Pemerintah dianggap terlalu lambat, pejabat dianggap terlalu nyaman, dan kebijakan dianggap terlalu jauh dari rakyat. Maka demonstrasi menjadi cara paling masuk akal untuk mengingatkan mereka yang sedang berkuasa bahwa ada suara yang mesti didengar.
Lalu waktu bekerja dengan caranya sendiri. Mahasiswa itu lulus. Mencari pekerjaan. Meniti karier. Sebagian berhasil masuk ke ruang-ruang yang dulu hanya mereka lihat dari luar pagar.
Ada yang menjadi birokrat, anggota dewan, kepala daerah, menteri, atau setidaknya orang yang ikut menentukan kebijakan.
Dan di situlah cerita lama diputar ulang.
Di depan pagar berdiri mahasiswa dengan pengeras suara. Di balik pagar berdiri mantan mahasiswa yang kini sibuk menjaga wibawa institusi.
Lucunya, kalimat yang mereka ucapkan sering kali sama dengan kalimat yang dulu paling mereka benci.
“Situasinya tidak sesederhana itu.”
“Adik-adik harus memahami proses.”
“Negara tidak bisa dijalankan hanya dengan semangat.”
Kalimat-kalimat itu sebenarnya tidak selalu salah. Yang membuatnya terasa ganjil adalah karena dulu mereka sendiri tidak percaya pada kalimat semacam itu.
Mungkin memang begitulah kekuasaan bekerja. Ia tidak selalu mengubah seseorang menjadi jahat. Kadang ia hanya membuat seseorang lebih pandai memaklumi keadaan daripada mempertanyakan keadaan.
Pelan-pelan idealisme diganti kompromi. Kompromi berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan akhirnya dianggap sebagai kewajaran.
Padahal, yang dulu dikritik bukan semata-mata orangnya, melainkan cara berpikirnya.
Itulah sebabnya pergantian generasi sering tidak otomatis menghadirkan perubahan. Yang berganti hanyalah nama di papan jabatan. Cara memandang kritik tetap sama.
Mahasiswa datang dianggap mengganggu. Pejabat merasa sedang bekerja. Rakyat tetap menunggu.
Barangkali persoalan terbesar negeri ini bukan karena terlalu sedikit orang pintar. Kampus setiap tahun menghasilkan ribuan sarjana. Demonstrasi pun tidak pernah benar-benar sepi.
Yang lebih sulit adalah menemukan orang yang mampu membawa idealismenya sampai ke ruang kekuasaan tanpa kehilangan keberanian untuk dikoreksi.
Karena sejarah kita berkali-kali memperlihatkan satu hal yang sama yakni tidak sulit menjadi mahasiswa yang berteriak di jalan.
Yang sulit adalah tetap mendengar teriakan itu ketika suatu hari kita berada di balik jendela kantor yang dulu kita datangi dengan membawa spanduk.
(Aiman Ambarita)















